Friday, July 28, 2006

BURUNG BESI

Forward dari temen...
ceritanya bagus, g aja baca ampe merinding :p baca yah...
merci beaucoup ya mba aci :)

BURUNG BESI

Setelah Papa lulus dari sekolah penerbangan Perancis, beliau menikah
dengan mamaku. Papa seorang kulit hitam, namanya Charles Jacquet,
mamaku seorang kulit putih, namanya Isabell Louvrett. Keluargaku cukup
demokratis,oleh karena itu, bagi Papa, pernikahan tidak memandang perbedaan
kulit.
Cara berpikir itu pula yang mendorong Papa untuk pindah ke Amerika.
Baginya dunia itu luas, di manapun kita berada, asal mau berusaha,
pasti kita menjadi seseorang. Oleh karena itu kami pindah ke Portland.
Papa ditawari menjadi penerbang di suatu perusahaan. Di sana beliau
menjadi Pilot pesawat Air Bus dan menerbangkan pesawat ke banyak wilayah di
Amerika.

Papa mempunyai sebuah cita-cita. Ada sebuah pesawat yang sangat
dicintainya. Kecepatannnya luar biasa, mach2, selain itu bodinya
sempurna. Pesawat kebanggaan Amerika ini menjadi cita-cita papaku.
Namanya F-16. "Voir ma dear, lihat sayang," Ujar Papa suatu kali di
pangkalan pesawat terbang, tempatnya bekerja. Beliau menunjuk ke
sebuah pesawat indah.Itulah F-16. "Suatu hari, Papa akan menaikinya,
begitu pula dengan Mama dan kamu ma pouppette."
Saat itulah aku tahu, betapa tingginya cita-cita Papa. Beliau bukan
berasal sekolah militer, dan bukan warga negara asli Amerika. Hampir
tidak mungkin baginya untuk menjadi anggota AU Amerika. Tapi cita-cita itu
tetap dipegangnya dengan teguh dalam hati. Ya, cita-cita indah tentang
menaiki burung besi yang bagaikan seekor rajawali.Tujuh tahun telah
berlalu sejak kepindahan kami. Usiaku sudah 12 tahun.Papa kini menjadi salah
satu pegawai yng disegani di perusahaannya. Mama juga meneruskan
kuliahnya, dia mengambil jurusan sastra Perancis. Jelas terlihat pada dirinya, betapa
ia masih mencintai Perancis. Di rumah pun, bahasa Inggris masih
terbatas pemakaiannya. Hampir sepanjang hari mama berbicara dengan bahasa
Perancis.
Terkadang kalau kami bepergian dengan taksi, mama suka tiba-tiba
berkata, "Conduisez-moi a...ups, I mean, take me to..."
Kalau sudah begitu, papa dan aku hanya bisa tertawa kecil.
Teman-temanku di sekolah pun cukup heran dengan keberagaman
keluargaku.
Apalagi kalau ada pertemuan orangtua murid di sekolah. Guru-guruku
selalu memanggil nama mamaku bekali-kali, padahal beliau sudah ada di
hadapan mereka. Maklum, kulitku hitam seperti Papa, walaupun mataku biru
seperti mama. Tapi ini semua membuatku bangga. Tidak semua anak beruntung
sepertiku. Ya, kan?

Segala sesuatunya berjalan normal, Papa bekerja, Mama kuliah, dan aku
sekolah. Tapi suatu hari, sesuatu yang benar-benar merubah kami
sekeluarga. " Jai faim, Mama. Saya lapar, Mama," ujarku kepada Mama
ketika tiba-tiba Papa masuk tanpa mengetuk pintu dahulu. Karena Papa
baru pulang setelah seminggu penuh bekerja, aku segera berlari
menujunya,
biasanya, Papa akan langsung menggendongku sambil mengajakku bercanda.
Tapi hari itu, dia hanya mengelus kepalaku, sambil tersenyum, dalam sekali. Lalu, tanpa basa-basi, Papa memeluk Mama, dan mulai menangis, pelan. Saat itu,
pertama kalinya aku melihat laki-laki yang paling kubanggakan
menangis seperti itu. Saat itu, aku hanya memandangi, dan tidak tahu apa yang
terjadi. Ketika melihatku,Mama segera berkata, "Aller pour tranguille, dear, I'll
bring your dinner, in a few minutes, okay?" ujar Mama lembut. Aku lalu naik ke atas
dengan perasaan bingung. Selama 3 jam Mama dan Papa ngobrol di bawah,
sepertinya menggunakan bahasa Perancis yang "complicated" sekali. Perutku yang
lapar tidak terasa lagi, aku hanya ingin tahu, ada apa di bawah sana.
Esok paginya aku terbangun. Rupanya semalam aku ketiduran. Cepat-cepat
aku turun ke bawah. Hari ini hari Sabtu, sekolah libur. Begitu sampai
di bawah,sudah ada Papa dan Mama menunggu di meja makan. Wajah mereka
cerah sekali, bahkan jauh lebih tenang dari biasanya. Seperti ada jiwa
baru di mata mereka yang membuat segala sesuatunya lebih baik. "Bonjour, ma
pouppete," Ujar Papa sambil menenggak kopi hangatnya. "How's your
sleep dear? Waktu mama ke kamarku semalam, kamu sudah tertidur.Jadi,
pagi ini ada masakan istimewa, omelet kesukaanmu." Keduanya tampak
berseri. Tapi kebingunganku, belum juga reda. Papa melihat itu, lalu
menyuruhku duduk di dekatnya.

"Siapa Tuhanmu, Anna?" Pertanyaan Papa yang aneh dan tidak biasa itu
mengejutkanku. Papa belum pernah bertanya seperti itu, bahkan
menyinggung-nyinggung hal itu pun jarang. Iya, kami merayakan natal
setiap tahun, seperti orang lain. Setiap Paskah selalu ada ayam kalkun
di meja makan. Terkadang kami ke gereja, di rumahku juga ada Bible. Tapi
mempelajarinya? Membukanya pun, hanya pada saat-saat khusus itu. Papa,
atau Mama, yang memang sangat demokratis, benar-benar tidak peduli
tentang itu. Aku pun tidak, selama kami bahagia, itu sudah cukup. Tapi
kujawab juga pertanyaan papa, sepanjang pengetahuanku. "Yesus, Papa," Jawabku.
"Lalu bagaimana dengan Tuhan Bapa?" Pertanyaan Papa benar-benar
membingungkanku."D-Dia juga, Papa," jawabku ragu.
"Lalu, Roh Kudus?" Hatiku gelisah, apa maksudmu Papa?
"Iya! Dia juga Tuhan!"
"Lalu, ada berapa Tuhan kalau begitu?" Aku teringat kata pastur yang
masih membingungkanku sampai sekarang."Semuanya satu Papa, hanya satu!"
"Kamu yakin Anna? Apa tiga sama dengan satu?" Aku terdiam. Aku gelisah
dan heran, apa maksud papa bertanya seperti ini. Lalu Papa merubah pertanyaannya.

"Menurutmu, kalau ada, misalnya, dua yang sempurna, diberi kesempatan
untuk menguasai dunia, apa yang mereka lakukan?" Tanya Papa.
"Bi-bisa saja mereka berebut atau bekerja sama, Papa," jawabku.
"Misalnya mereka bekerja sama, dan yang satu tidak setuju dengan yang
lainnya apa yang bakal terjadi?"

"Me-mereka akan bertengkar Papa."

"Tepat, my little, pouppete, satu lagi kalaupun mereka bekerja sama
bukanlah pola pikir mereka sama, sehingga dalam menciptakan sesuatupun
sama. Apakah perlu dua orang kalau begitu?" tanya Papa.
"Tidak Papa, satupun cukup." Papa lalu tersenyum mendengar ucapanku.
"Kalau begitu, apa perlu Tuhan yang banyak?" Aku terdiam. Jauh di dalam
hatiku seperti ada sinar terang. Ya, aku memang baru berumur dua belas
tahun, tapi perasaan itu benar-benar terasa di dalam hatiku.

"Tidak Papa, cukup satu," jawabku mantap. Tiba-tiba air mata Papa
tumpah,Mama juga. Dengan suara bergetar, Papa bertanya."Terakhir dear,
apa kamu percaya Tuhan?" Saat itu, bagaikan sekelilingku benar-benar sunyi
senyap. Aku teringat betapa indah semua pertanyaan yang pernah kualami.
Melihat bintang-bintang di planetarium, alam Perancis yang luar biasa,
bukan hanya itu, segala sesuatu yang pernah kulihat selama ini
Pasti ada yang membuat. Di pelajaran Biologi di sekolah, benda hidup
tidak mungkin berasal dari benda mati. Kalau begitu, pasti segala sesuatu ini
ada yang meciptakan, dan itu adalah...
"Ya, Papa. I believe in God." Kedua orang tuaku tesenyum. Damai
sekali.Tanpa sadar aku menitikan air mata, seperti aku baru terbangun
dari mimpi panjang , dan pertama kali melihat cahaya. Rupanya ini yang membuat
Papa menangis.
Kembalinya keyakinan dalam dirinya. Ya, Papa telah menemukan Tuhannya.
Dan kini aku ingin mengetahuinya.
"Allah, Tuhan kita, Anna." Perlahan Papa mulai bercerita," Papa
menemukan Dia saat mendengar seorang teman Papa, muslim yang membaca
kitabnya dengan bahasa yang asing sekali bagi Papa. Tapi hati Papa
bergetar, walau tidak tahu artinya, hati Papa benar-benar tergetar. Saat Papa
menanyakan artinya, teman Papa menjawab, 'Sesungguhnya bumi Allah itu luas, dan
rezeki Allah berlimpah di mana-mana'. Papa kaget. Itu prinsip hidup
Papa selama ini! Papa tidak menyangka, prinsip hidup Papa yang selama
ini banyak ditentang, ada di suatu kitab. Apa itu kebenaran? Lalu papa
meminta teman Papa membacakannya ayat-ayat lain, dan hati Papa seperti
disiram air sejuk."
"Anna, Mama pun merasakan itu. Tadi malam Papamu menceritakan semuanya.
Inilah yang Mama belum dapatkan selama ini. Islam! Menyembah Tuhan yang satu!
Inilah jalan hidup yang Mama dan Papa cari. Bertahun-tahun, ya kau tahu sendiri Anna, hidup bahagia, tapi hati penuh kegelisahan. Dan kini,hanya dengan sepotong ayat saja, Papa dan Mama merasakan hidup yang sebenarnya. Anna, kau masih kecil, kami tidak memaksamu, tapi apa kau merasakan sesuatu? Coba rasakan di dasar hatimu, my little pouppete."
Aku tidak bisa berkata, tapi kepalaku kuanggukan. Dengan penuh
keyakinan. Ya, aku masih kecil, tapi aku sudah merasakannya, getaran
itu benar-benar menggema ke seluruh tubuhku.
Pagi itu, sarapan kami terasa penuh makna. Seperti ruang-ruang kosong
di relung hati, terisi sedikit demi sedikit. Bahkan sinar matahari pun
terasa lebih jauh-lebih rendah.

***

Hari itu juga, kami ke rumah teman Papa, Mr.Ahmad Brown, dia sudah
masuk Islam selama lima tahun. Dia Angkatan Udara Amerika Serikat yang
sedang cuti. Papa bilang, di AU, perkembangan Islam sangat pesat.
Terutama dari golongan orang kulit hitam.
Papa memiliki banyak kenalan dari AU, karena-seperti yang kalian
tahu-kecintaannya pada pesawat F-16. Rupanya Papa mencuri-curi tahu ke
mana saja pesawat itu berdinas, bagaimana onderdilnya, dan banyak lagi.

Kami bertiga diajak oleh teman Papa ke sebuah masjid sederhana
diPortland. Tempat ini merupakan salah satu tempat syiar Islam yang
masih jarang ditemukan di Portland. Kami bertiga masuk ke dalam dan
melihat beberapa orang sedang sujud, membaca kitab, atau
bergumam-gumam. Wajah mereka tenang sekali. Beberapa adalah orang Amerika asli, atau juga berkulit hitam seperti Papa. Tapi yang paling banyak adalah orang Asia. Teman Papa lalu mengajak kami bertemu pemimpin agama,pastur kalau di Kristen. Lalu secara sederhana, saat Papa minta diislamkan,dengan mata yang berkaca-kaca, dia menyuruh kami mengikuti perkataannya, "Asyhadu anla ilaha illallah,wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, I witness that there is no God except Allah, and I witness that Muhammad is his messenger." Singkat, tanpa perlu ritual berlebihan. Beliau lalu memberikan kami masing-masing sebuah kitab.

"This is Koran. Bacalah, pelajari. Tidak usah terlalu di buru. Ini juga sebuah kitab fiqih untuk mempelajari Islam, banyak buku yang bisa kalian pinjam dan pelajari, dan kami semua siap membantu. Apa saja. Bersabarlah, remember, Actually God is with whom is patient."

***
Kami sekeluarga perlahan-lahan mulai mempelajari Islam. Setiap habis Maghrib, selama satu jam sampai waktu Isya' kami belajar membaca Al-Qur'an. Kalau Papa pergi tugas, istri Mr. Ahmad yang membantu.
Islam perlahan-lahan mulai menjadi tiang penyangga hidup kami.

***
Namun, tidak semuanya berjalan mulus. Terutama bagi Mama. Beliau mulai memakai kerudung. Dan pakaiannya, benar-benar mencerminkan muslimah.
Tapi, teman-teman di kampusnya mulai menjauhinya. Hanya beberapa yang,yang benar-benar demokratis mau berteman dengannya. Untunglah,teman-teman muslimah bertambah banyak. Sehingga Mama tidak merasa sendiri. Tapi ada satu hal yang terberat. Saat Mama menceritakan keislamannya kepada orangtuanya, Grandma terutama, marah besar. Saat mama berbicara ditelpon, air matanya tumpah. Lalu tiba-tiba ia diam, kemudian
memanggil-manggil,"Mama, oh Mama, mama." Teleponnya diputuskan. Mama hanya bisa
bersandar didada Papa sambil menangis. Papa terus berkata, "Actually God is with whom is patient, Ma Cherie. He is. He is.

Di sekolah, teman-temanku tetap bersikap baik. Bahkan mereka suka bertanya yang aneh-aneh. Seperti, "Dalam Islam, ada Santa Klausnya,nggak?" atau "Wah, asik dong. Kamu ngak usah ke gereja lagi tiap minggu." Dan banyak komentar lagi komentar lain. Sekolahku memang multi etnik, dan sangat liberal. Selama tidak mengganggu mereka, semua akan seperti biasa saja. Walaupun ada juga orangtua atau guru yang sinis, hal itu tidak kupedulikan. Mereka saja yang berpikir terlalu sempit.

***
Setahun berlalu, tiba-tiba di negara bagian ini muncul desas-desus mengerikan. barnya orang-orang kulit hitam banyak yang tiba-tiba menghilang. Banyak yang mengatakan bahwa mereka menjadi korban penculikan sekte-sekte fanatik ras kulit putih. Polisi, FBI, sudah diturunkan ke berbagai kota, tapi hasilnya secara konkret belum juga muncul.
Papa sangat khawatir. "Isabell, aku akan cuti. Atasanku memaklumi. Lagipula aku belum
mengambil cutiku yang sebulan. Dan kini, tugasku untuk menjaga kalian.Setidak-tidaknya sampai keadaan mereda. Oke? J'etaime I don't want to lose you." Situasi benar-benar gawat. Sudah beberapa mayat yang hilang yang ditemukan,dengan kondisi memilukan. Para maniak itu bahkan selalu meninggalkan pesan mengerikan, bahwa tidak jarang jorok, 'Die you Negros!, atau 'Pig's skin ever better than your!" dan banyak lagi. Perlindungan bagi kaum kulit hitam dari Harlem. Kemarin, mayat seorang pastur kulit hitam ditemukan.
Aku khawatir dengan Papa. " Don't worry ma pouppete. Allah with us. Kita harus berani, dan selalu waspada. Okay?"
Sampai hari itu. Hari dimana semua kebahagiaanku direnggut. Papa sedang berkendara dari kota. Kami sedang dalam pejalanan pulang. Karena ada pemblokiran jalan, kami terpaksa lewat jalan kecil. Malam itu sepi sekali. Tiba-tiba di tengah jalan, Terdengar bunyi tembakan. Papa cepat-cepat mengerem. Ternyata ban kami pecah. Lalu, muncul orang-orang bertudung putih, berjalan mendekat sambil membawa obor dan senjata. Pakaian mereka putih,dengan lambang salib terbalik. Aku ketakutan, Mama juga, tapi Papa memegang tangan kami sambil teus berkata, "Ingat, apapun yang terjadi, Allah selalu bersama kita, Macherie."
Mereka menyuruh kami turun dari mobil. Kalau tidak, mereka mengancam
kepala kami akan ditembak. Papa menurut. Lalu kami digiring ke dalam
hutan,perjalanannya cukup jauh, aku ingin menangis, tapi aku percaya, aku
harus kuat.
Kami tiba di sebuah lapangan luas. Di sana ada lebih banyak lagi
orang-orang bertudung putih. Mereka beteriak kasar, bersorak-sorai,
sambil membakar kayu-kayu. Pandanganku lalu tertuju ke sebuah penjara kayu. Panjang,
dan didalamnya,banyak orang kulit hitam! Kami didorong ke sana.
Tiba-tiba Mamaku ditarik lengannya."Lepaskan istriku!" Papa coba berontak. Mama
berusaha untuk
lepas, tapi sia-sia. Orang tiba-tiba berkata.
"Wanita ini seorang kulit putih. Tapi lihat! Keluarganya Negro, cih,
menjijikan! Tubuhnya sudah ternoda oleh si hitam itu! Negro hina! Dan,
apa ini?" Ujarnya sambil menarik kerudung Mama, "Ini benda yang
dipakai wanita-wanita Islam itu. Cih! Ini lebih hina lagi. Tidak ada
pantas-pantasnya, bahkan untuk di muka bumi ini! Mau apakan dia?"
Ujarnya sambil berteriak keras. "Bakar! Bakar! Bakar!" orang-orang
itu mulai menjadi liar. Lalu orang tadi berkata lagi,
"Semua ingin kau bakar. Tapi demi ras kulit putih kita, kuberi kau
kesempatan. Tinggalkan keluargamu, juga Islammu. Kau akan kami
bebaskan,
setuju?" Papa tiba-tiba berteriak.
"Isabell! Lakukan! Lebih baik seorang dari kita selamat! Lakukan!
Lakukan!" Tepat setelah itu. Kulihat mata biru mama dengan penuh
keyakinan menatap tajam kepada orang itu, lalu berkata.
"Aku tidak akan melepaskan agamaku walaupun kulitku lepas dari
dagingnya. Dan aku tidak akan meninggalkan keluargaku, walau nyawa
taruhannya!" Orang itu gemetar, lalu memerintahkan orang-orangnya
untuk mengurung mamaku juga.
Kami dilempar ke dalam, bersama orang-orang kulit hitam lainnya. Tubuh
mereka kurus sekali, badannya penuh luka. Banyak juga wanita dan
anak-anak seusiaku. Beberapa tampak berasal dari keluarga miskin,
tapi ada juga yang berada sepertiku. Seorang laki-laki tiba-tiba berbicara
kepadaku.
"Hari ini mereka akan membunuh lima orang dari kita." Lalu anak lain
menyahut.
"Lalu, mayatnya dibawa entah kemana...seperti ayahku," gadis kecil itu
menerangkan, lalu menangis. Mamaku lalu memeluknya dan bertanya.
"Tidak adakah yang bisa kita lakukan?" Tiba-tiba seorang berbisik
kepada Papa. Papa mengangguk, sebentar wajahnya tenang, lalu pucat
sekejap
dan tenang kembali. Ada apa, Papa? Papa mendekat kepadaku dan Mama,
lalu berkata pelan. "Mereka telah mematahkan sala satu dari kayunya. Akan
cukup bagi anak-anak
dan wanita untuk keluar. Anna, kamu seorang pandu di sekolah, bawa
mereka ke tempat pemblokiran polisi tadi, Isabell, kau jaga para
wanita
dan anak-anak ini. Okay?" belum sempat aku membantah, Mama cepat-cepat
memotong sambil memegang kedua tangan Papa. "Charles, bagaimana denganmu?
Bagaimana kau keluar? A-aku tidak mau pergi sendiri!" Air mata mama
mulai
tumpah, Papa memandangku dengan sangat dalam.Lalu Mama jatuh ke
pelukan Papa, menangis sambil mengucap nama Allah. Aku menyelinap masuk di
antara mereka, dan ikut menangis.
***

"Ayo saatnya sudah tiba. Anna, bawa anak-anak keluar, juga para
wanita. Depechez vous! Cepatlah! Mumpung mereka sedang tertidur, Papa
dan lainnya akan menahan mereka dari sini! Cepat lari!" Setelah
semuanya keluar, aku kembali ke Papa. Tidak, tidak mungkin aku
meninggalkan
Papa. Tepat saat semuanya berjalan sempurna, tepat saat kami menemukan
kehidupan di
jalan yang lurus. Aku tidak rela, Papaku yang kucinta. Sang Pilot yang
kukagumi. Ma Papa. "Ayolah Anna. Yang lain membutuhkanmu." "Tapi
papa,
kenapa harus begini? Tidak Papa! Tidak!" "Chest-la-vie. Kamu harus
tabah, ma pouppet. Kalau Papa memang harus pergi
bukankah Papa akan pegi ke tempat yang lebih baik? Ke sisi Allah.
prier
to
Dieau. Kita akan bertemu lagi, Okay?" Papa lalu mencium keningku,
lama,

sampai kurasakan air matanya mengalir di keningku.
"Come on, Anna dear," Mama memanggilku. Dia Lalu mematap lekat
kepadaku
Papa." A toute a I'huere. I'll be missing you," Lama sekali keduanya
bertatapan, lalu dengan lembut Papa mencium kening Mama. Dan berkata
berkali-kali.
"J'etaime macherie. J'etaime. J'etaime Isabell, J'etaime Anna.
J'etaime..." Lalu perlahan dilepaskannya pegangannya," Allez vous-en!
Lari sejauh
mungkin. Ingat pesan Papa, jaga Mamamu!"

"Soyez tranguille I will Papa, I will." Perlahan aku keluar, Mama
memegangiku. Tiba-tiba salah seorang dari mereka melihat kami. Kami
bergegas.
"Noubliez pas, Anna, 'Asyhaduanla ilaha....."
"Illallah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah..." Aku dan Mama
membalas,lalu kami pergi. Para penjahat itu mulai berkumpul. "Ingat
cita-cita Papa, pouppete, F-16 burung besi kecintaan Papa. Wujudkan
cita-cita Papa, Noubliez pas! J'etaime, J'etaime Isabell, J'etaime
Anna!"
"J'etaime Papa! J'etaime"
"J'etaime Charles! J'etaime Mama dan aku lalu pergi berlari. Aku
memimpin mengikuti arah bintang, semak-semak belukar yang melukai
kakiku,
tidak
kuingat lagi. Pardoner Papa!
Aku tidak ingat lagi ketika tiba di tempat pemblokiran polisi
bagaimana
kami menjelaskan kejadiannya, lalu masuk ke hutan dengan polisi. Aku
tidak
ingat bagaimana para biadab itu terkepung. Aku bermimpi, di suatu
tempat,
putih, dan halus. Papa!

"Wonderful ma pouppete. Kau berhasil. Sekarang jaga mamamu. Papa akan
ke tempat yang akan berkumpul bersama lagi. N'oubliez pas! God is with
whom is patient! Wujudkan cita-cita Papa. Goodbye ma pouppete! Lalu
sosok Papa menghilang, pandanganku berputar, lalu aku terbangun. Wajah
yang saat itu aku lihat, Mama!
"Oh, Anna. Anna, be patient. Papa is gone. He's with Lord Now." Mama
lalu memelukku erat.
"Kami berterima kasih," tiba-tiba seorang berkulit hitam berbicara.
Wajahnya sedih sekali," Papamu telah menyelamatkan hidupku. Dia
melindungiku
dari tembakan biadab-biadab itu. Papamu tidak menderita, dia pergi
dengan senyum di wajahnya. Dia teus mengucap 'Allah...Allah', dan dia
sempat
meninggalkan pesan untukmu," Anna, ma pouppete, jaga mamamu. Ingat
cita-cita
Papa.
Preir to Dioer, J'etaime..." aku menangis, Mama juga. Papa kini telah
pergi, tapi ke tempat yang lebih baik. Sampai aku juga kesana. Wait
for
me,
Papa. I'll make your dreams come true. J'etamine..
***
Papa mendapat gelar kehormatan dari pemerintah AS. Hidup Mama dan aku
mendapat tunjangan, dan aku mendapat beasiswa. Aku melanjutkan ke
sekolah militer. Mama, dengan tabah, membangun kembali dirinya. Beliau
mengajar sastra Perancis di universitas-universitas Portland dan
Seattle.
Mama
juga aktif mendakwahkan Islam di berbagai tempat. Perlahan kami
membangun kembali keluarga kami, grandma bahkan memaafkan mama dan
memutuskan
untuk pindah ke Amerika untuk membantu Mama. Namun dengan hakus Mama
menolak.
Katanya, "I can raise my own child, trust me momm."
***
Mesin pesawat berbunyi halus. Sayap F-16 yang kokoh ini membawaku
terbang ke angkasa. Hari ini, Anna Marie Fatimah Jacquet, penerbang
muslimat
pertama, mewujudkan cita-cita Papa. Terus membumbung tinggi ke langit
yang dicintai Papa.
A'toute a I'houre Papa. Sampai kita bertemu kembali....( Nur)

Keterangan:
N'oubliez pas: jangan lupa
Soyez tranguille: jangan khawatir
Allez vouz-en: larilah
A'toute I'heure: selamat tinggal
J'etaime aku mencintaimu
Chest la vie: inilah hidup
Aller puor tranguille: pergilah ke kamar
Harlem: tempat perkampungan orang-orang negro

Wassalam
hehe.... g lagi suka lagu ini niy :D

RUN IT-nya CHRIS BROWN

...
I got friends, and you got friends
They hop out, and you hop in
I look fly, and they jockin
The way you drop, drop makes me wanna pop, pop

Is ya man on the flo?
If he ain't, Let me know
Let me see if you can run it, run it
girl indeed I can run it, run it
...

sayangnya ga mungkin nge-dance di kantor kan yak
:)) =))
hhmmnn.. i've heard this song for almost ten times today...just today...:p like yesterday also...
here are the lyrics..

BROWN EYES from DESTINY'S CHILD

Remember the first day when I saw your face
remember the first day when you smiled at me
you stepped to me and you said to me
I was the woman you dreamed about
remember the first day when you called my house
remember the first day when you took me out
we had butterflies although we tried to hide
and we both had a beautiful night

The way we held each others hand
the way we talked the way we laughed
it felt so good to find true love
I knew right then and there you were the one

I know that he loves me cause he told me so
I know that he loves me cause his feelings show
when he stares at me you know that he cares for me
you see how he is so deep in love
I know that he loves me cause its obvious
I know that he loves me cause it's me he trusts
and he's missing me if he's not kissing me
and when he looks at me his brown eyes tells his soul

Remember the first day, the first day we kissed
remember the first day we had an argument
we apologized and then we compromised
and we haven't argued since
remember the first day we stopped playing games
remember the first day you fell in love with me
it felt so good for you to say those words
cause I felt the same way too

The way we held each others hand
the way we talked the way we laughed
it felt so good to fall in love
and I knew right then and there you were the one

I know that he loves me cause he told me so
I know that he loves me cause his feelings show
when he stares at me you know that he cares for me
you see how he is so deep in love
I know that he loves me cause its obvious
I know that he loves me cause it's me he trusts
and he's missing me if he's not kissing me
and when he looks at me his brown eyes tells his soul

i'm so happy so happy that you're in my life
and baby now that you're a part of me
you showed me
showed me the meaning of true love
and i know he loves me

I know that he loves me cause he told me so
I know that he loves me cause his feelings show
when he stares at me you know that he cares for me
you see how he is so deep in love
I know that he loves me cause its obvious
I know that he loves me cause it's me he trusts
and he's missing me if he's not kissing me
and when he looks at me his brown eyes tells his soul

He looks at me and his brown eyes tell his soul



kinda romantic song, isn't it?
yeah... the girl next desk ... is playing this song all day long :D
(sst :-$ i used to love it too...)
let's see the next whole week...
;))

Thursday, July 20, 2006

Happy B'day Bro!

Hai Bro, met ultah ya...
Semoga panjang umur, sehat, sukses dan selalu diberi kemudahan oleh Allah SWT.
amien [-o<


ur sista,
annippe

ps: ga terasa, u r now 24 years old.

Tuesday, March 07, 2006

Nice story...Treat every love as last love

Fw from a friend, nice....


Sejak semula, keluarga dari si gadis tidak menyetujui hubungannya dengan sang pemuda. Mereka mengajukan alasa n mengenai latar belakang keluarga, bahwa jika si gadis memaksa terus bersama dengan sang pemuda, dia akan menderita seumur hidupnya..... Karena tekanan dari keluarganya, si gadis jadi sering bertengkar dengan pacarnya. Gadis itu benar2 mencintainya, dan dia terus-menerus bertanya, "Seberapa besar kamu mencintaiku?" Sang pemuda tdk begitu pandai berbicara, dia selalu membuat si gadis marah. Dan komentar-komentar dari orangtuanya membuatnya bertambah kesal. Sang pemuda selalu menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya. Dan sang pemuda selalu membiarkannya melampiaskan kemarahannya kepadanya....

Setelah beberapa saat, sang pemuda lulus dari perguruan tinggi. Ia bermaksud meneruskan kuliahnya ke luar negeri, tapi sebelum dia pergi, dia melamar gadisnya, "Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan kata2 manis, tapi saya tahu bahwa saya mencintaimu. Jika kamu setuju, saya ingin menjagamu seumur hidupmu. Mengenai keluargamu, saya akan berusaha keras untuk meyakinkan mereka agar meny etujui hubungan kita. Maukah kamu menikah denganku?" Si gadis setuju, dan keluarganya setelah melihat usaha dari sang pemuda, akhirnya merestui hubungan mereka. Sebelum pemuda itu berangkat, mereka bertungan terlebih dahulu. Si gadis tetap tinggal di kampung halaman dan bekerja, sementara sang pemuda meneruskan kuliahnya di LN.....

Mereka melanjutkan hubungan mereka melalui surat dan telepon. Kadang-kadang timbul kesulitan, tapi mereka tidak menyerah terhadap keadaan. Suatu hari, dalam perjalanan ke tempat perhentian bis sepulang dari kerja, si gadis tertabrak mobil hingga tak sadarkan diri. Ketika siuman, dia melihat kedua orangtuanya dan menyadari betapa beruntungnya dia dapat selamat. Melihat air mata orangtuanya, dia berusaha untuk menghibur mereka. Tetapi dia menemukan... bahwa dia tidak dapat berbicara sama sekali. Dia bisu..... Menurut dokter kecelakaan tersebut telah mencederai otaknya, dan itu menyebabkannya bisu seumur hidupnya. Mendengar orangtuanya membujuknya, tapi tidak dapat menjawab sepatah kata pun, gadis tersebut pingsan...

Sepanjang hari hanya dapat menangis dan membisu...Ketika akhirnya dia boleh pulang dari RS, dia mendapati rumahnya masih seperti sedia kala. Hanya jika telepon berdering, dia menjadi pilu. Dering telepon telah menjadi mimpi terburuknya. Dia tidak dapat memberitakan kabar buruk tersebut kepada pacarnya dan menjadi bebannya. Dia menulis sepucuk surat untuknya, memberitahukan bahwa dia tdk mau lagi menunggunya. Hubungan antara mereka sudah putus, bahkan dia mengembalikan cincin pertunangan mereka. Mendapat surat dan telepon dari si pemuda, dia hanya bisa menitikkan air mata... Ayahnya tidak tahan melihat penderitaannya, dan memutuskan untuk pindah. Berharap bahwa dia dapat melupakan segalanya dan menjadi lebih bahagia...

Pindah ke tempat baru, si gadis mulai belajar bahasa isyarat. Dia berusaha melupakan sang pemuda... Suatu hari sahabatnya memberitahukan bahwa pemuda itu telah kembali dan mencarin ya ke mana-mana. Dia meminta sahabatnya untuk tidak memberitahukan dimana dia berada dan menyuruh pemuda tsb. untuk melupakannya.... Lebih dari setahun, tidak terdengar lagi kabar pemuda itu sampai akhirnya sahabat si gadis menyampaikan bahwa sang pemuda akan menikah dan menyerahkan surat undangan. Dia membuka surat undangan itu dengan hati pedih, dan menemukan namanya tercantum dlm undangan. Sebelum dia sempat bertanya kepada sahabatnya, tiba-tiba sang pemuda muncul di hadapannya.Dengan bahasa isyarat yang kaku, ia menyampaikan bahwa.... Aku telah menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk mempelajari bahasa isyarat, agar dapat memberitahukan kepadamu bahwa aku belum melupakan janji kita, berikan aku kesempatan, biarkan aku menjadi suaramu. "I L O V E Y O U" Melihat bahasa isyarat tersebut, dan cincin pertunangannya.... Si gadis akhirnya tersenyum.

Perlakukan setiap cinta seakan cinta terakhirmu... dan baru kamu akan belajar cara memberi.....

Perlakukan setiap hari seakan hari terakhirmu..... dan baru kamu akan belajar cara menghargai......Jangan pernah menyerah.

-------------------

Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar, mengandung banyak resiko... Yakinlah pada dirimu ketika kamu berkata: "Aku mencintaimu..."

Wednesday, March 01, 2006

Apa Pantas Berharap Surga???

assalamualaikum WR.WB

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua
rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek pula... Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah. Dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan:..."Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan".
Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya....dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap .. Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas .. menuju sumber panggilan,... kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh.... di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur'an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya,apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, Padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ....ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka ... Untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali Mereka terhenti, ......tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam .... dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata.
Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena.... lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak.Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudahlah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya,... bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan,.... ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh remeh,tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel... setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka ... atau mendapatkan
bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?
Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah
kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah Kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun ... selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan ......dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah?
Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat ...... masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu.
Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu... hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan Tunggu penyesalan. .....

Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan orang tua .... ketika iedul Fitri yang baru berlalu ....??? Apakah hari itu....hanya hari biasa yang dibiarkan berlalu tanpa makna.........??? Apakah siang harinya....kita sudah mengantuk....dan akhirnya tertidur lelap...? Apakah kita merasa sulit tuk meneteskan air mata...??? atau bahkan kita
menganggap cengeng......??? sampai sekeras itukah hati kita....???
Ya...Allah ....ya Rabb-ku......jangan Kau paling hati kami menjadi hati yg keras......, sehingga meneteskan air matapun susah....... merasa bersih......merasa suci.... merasa tak bersalah......merasa tak butuh orang lain...... merasa modernis.....dan visionis.... Padahal dibalik cermin masa depan yang kami banggakan.... terlukis bayang hampa tanpa makna.....dan kebahagiaan semu penuh ragu.....
Astaghfirullaah ... Yaa Allah...ampunilah segenap khilaf kami. Amin

Wassalamualaikum WR.WB

Monday, February 27, 2006

kikiki ;))

another good news for today...came at 3.15pm
thanks God, [-o<
at least there is another one step ;)

makasih ya... ;)

hi...i wanna say thanks to all of my friends :)
1. nani
2. yanti
3. ella
4. mba aci
5. taree
6. curut
7. atep
8. ucha (smsmu 2-2nya ga ada yang bisa dibuka...but i think i know what u meant to say :D)
9. indri
10. epi
11. ida (sabar ya
hehehe ga lupa juga yang ada di jogja
12. ithink
juga buat semua yang aku lupa sebutin....hehe..:D
makasih semua....terutama buat doa-doanya :">
n semoga g bisa menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya.. amien [-o<


PS: juve-ascoli 3-1 (jadi perfect deh hari ini, cuekin aja babe yang lagi bete hehe..)

Monday, February 20, 2006

what a lesson

i dunno who wrote this story, but i love it. i know for sure that it never fails to touch my heart everytime i read it. wish i could remind it forever in my life, and now i want to share it with you. hope you can take the lessons too.
_____________________________________________

A 91 year old woman died after living a long dignified life. When she met God she asked something that had long bothered her. If man was created in God’s image, and if all men are created equal, why do people treat each other badly?
God replied that each person who enters our life has a unique lesson to teach us. And it is only through these lessons that we learn about life, people, relationships and God.
This confused the woman, so God begin to explain.

When someone lies to you it teaches you that things are not always as they seem. The truth is often far beneath the surface. Look beyond the masks people wear if you want to know their heart. And remove your own masks to let people know yours.

When someone steals from you, it teaches you that nothing is forever. Always appreciate what you have, for you never know when you might lose it. And never, ever take your friends and family for granted because today is the only guarantee you have.

When someone inflicts an injury upon you, it teaches you that the human state is a fragile one. Protect and take care of your body as best you can, it’s the only thing you are sure to have forever.

When someone mocks you, it teaches you that no two people are alike.

When you encounter people who are different from you, don’t judge them by how they look or act; instead base your opinion on the contents of their heart.

When someone breaks your heart, it teaches you that loving someone does not always mean that the person will love you back. But don’t turn your back on love because when you find the right person, the joy that one person brings will make up for all the past hurts put together, times ten.

When someone holds a grudge against you, it teaches you that everyone makes mistakes.
When you are wronged, the most virtuous thing you can do is forgive the offender without pretense. Forgiving those who have hurt us is the most difficult and courageous thing man can do.

When loved one is unfaithful to you, it teaches you that resisting temptation is man’s greatest challenge. Be vigilant in your resistance against all temptation. By doing so you will be rewarded with an enduring sense of satisfaction far greater than the temporary pleasure by which you were tempted.

When someone cheats you, it teaches you that greed is the root of all evil. Aspire to make your dreams come true, no matter how lofty they may be. Do not feel guilty about your success, but never let an obsession with achieving your goals lead you to engage in malevolent activities.
When someone ridicules you, it teaches you that nobody is perfect. Accept people for their merits and be tolerant of their flaws. Do not ever reject someone for imperfections over which they have no control.

Upon hearing the God’s wisdom, the old woman became concerned that there were no lessons to be learned from man’s good deeds. God replied that man’s capacity to love is the greatest gift he has. At the root of all kindness is love, and each act of love also teaches us a lesson. The woman’s curiosity deepening, God once again began to explain.

When someone loves us, it teaches us that love, kindness, charity, honesty, humility, forgiveness and acceptance can counteract all the evil in the world. For every good deed, there is one less evil deed. Man alone has the power to control the balance between good and evil, but because the lessons of love are not taught often enough, the power is too often absurd.

When you enter someone’s life, whether by plan, chance or coincidence, consider what your lesson will be. Will you teach love or a harsh lesson of reality? When you die, will your life have resulted in more loving or hurting? More comfort or pain? More joy or sadness? Each one of us has the power over the balance of love in the world. Use it wisely. Don’t miss the opportunity to nudge the world’s scale in the right direction.

Author – unknown

Friday, February 17, 2006

Juventus 1st in Europe

Sixty-six points gathered in 25 matches mean an average of 2.64 points each game. An unbelievable amount making Juventus dominate on its European colleagues, being Chelsea, Bayern Munich, Barcelona and Lyon. On the same level as the French and German leading teams, Juventus only lost once in the whole championship. But it was able to win more. Twenty-one successes, three draws and one defeat represent the team’s palmares in this A series: no one in Europe could do better in 25 games.


The fact that this is an extraordinary season for Juventus is also shown by the 25 points more compared to last championship, that also saw Juventus triumph with seven points of advantage on Milan.